Tidak Untuk Dibaca

Tengah malam ini entah kenapa bayangan Kota Bandung kembali datang lagi. Sejak hujan yang rutin mulai beberapa hari lalu, dingin absah menjadi teman rasa bosan dan kesepian. Hembusan dingin dari celah jendela di sebuah rumah yang hampa, ditambah sayup serunya suara kendaraan yang saling bertabrakan di perempatan lampu merah dekat jembatan. Suasana yang sama seperti Bandung yang pernah aku alami; Sengaunya, dinginnya, sesuaranya. Tapi itu dulu, dulu sekali.

Rasa yang sama ketika secarik masa lalu melintasi kepala seorang manusia: indah, menyenangkan, lucu, menenangkan, dan berbagai macam perasaan yang memaksa hormon serotonin bekerja sesuai tugasnya. Bahkan kadang masa-masa itu juga tidak bagus-bagus amat, barangkali karena menyamar jadi kenangan maka jadi indah, atau entahlah, cuma karanganku saja.

Tentang Bandung, tak perlu lagi aku jelaskan dengan terlalu banyak kata. Disini, nanti terlalu banyak yang bisa membacanya. Cukuplah semuanya tertuang di paragraf pertama. Dingin dan sejuknya ia hingga tingkah konyol yang pernah ada. Bandung bukan sekedar kota. Bandung itu rasa.

Tulisan ini tidak untuk dibaca, tapi untuk dirasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s