Pemuda Yang Akan Ditukar

Judulnya agak mengada-ada sih. Tapi penggunaan ‘akan’ pada judul merepresentasikan kemungkinan. Cerita kemungkinan ini saya temukan ketika proses seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara 2014 yang diadakan oleh PCMI (Purna Caraka Muda Indonesia) Aceh yang bekerja sama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Aceh. Setengahharian ini, saya dan 49 peserta lainnya menjalani proses seleksi Tahap 3 hari pertama.

Sebelumnya, untuk tahap pertama adalah tahap administrasi. Sebagai last-minute person yang sangat taat, saya melengkapi berkas pada hari terakhir dalam keadaan cukup sakit (malamnya saya melarikan diri ke IGD, seharusnya dirawat inap sih, karena askes mati, saya pulang lagi ke rumah. Well, cerita ini akan dibahas lain waktu ha ha)

Lolos ke tahap 2, oh ternyata saya masih diberi jalan untuk ‘ditukarkan’. Rasa ragu mulai datang karena tes dipusatkan di aula dan pasti akan ramai. Entah sejak kapan, saya kurang suka keramaian dan orang-orang. Atau bahasa lainnya saya kurang gairah berada di tengah keramaian. Tapi ya saya pikir tes tahap 2 ini adalah uji intelejensi dan pengetahuan (tes potensi akademik, pengetahuan umum, dan bahasa inggris), kenapa enggak untuk seorang yang udah lama gak menyicipi bangku pendidikan formal. Hitung-hitung sebagai alat uji bagi saya yang selama ini belajar dari mana-mana.

Beberapa hari menunggu pengumuman, ternyata bisa-bisanya saya lolos ke tahap 3. Berkompetisi dengan kebanyakan orang yang masih menyandang status mahasiswa bukanlah hal mudah. Tingkat keilmuan mereka relatif tinggi. Ya tapi tingkat pengalaman saya kan gak bisa juga seenaknya dibanding-bandingi (eh sape eluuuuu?!!! ha ha)

Intisari dari cerita kemungkinan ini sebenarnya akan saya mulai setelah kalimat ini :P. Memulai hari Sabtu, 19 April 2014 dengan mengikuti seleksi tahap 3 yang terdiri dari Speech dan LGD (Leaderless Group Discussion).

Ngomongin tentang speech, kemampuan peserta bisa dibilang merata, banyak yang bagus-bagus, malah bagus banget. Saya sendiri merasa kuang maksimal, kurang lepas dalam bicara. Hal yang kayak gini bukan karena gugupnya, tapi saya kehausaaaaannnn dengan kondisi flu yang tak seberapa mana. Tapi coba bayangin, bernapas susah, kerongkongan kering, ya sudah lah wasalam. I did my best aja deh yang penting. Terlepas dari persiapan yang minim. Jadi kalau ikut tes apa aja, bener-bener pastiin kamu fit 100% ya, jangan sampai faktor xyz kayak gini bikin potensi kamu gak keluar total.

Klimaks seleksi tahap 3 hari pertama ini ada di LGD. Peserta dibagi dalam sepuluh kelompok yang berisi 5 orang per kelompok. Awalnya kelihatan seru, tapi saat diskusi dimulai prediksi-prediksi saya juga mulai tampak. Akan ada yang terlalu vokal dan akan ada yang cenderung diam (Sok prediksi abang ni. udah capek abang yang kayak-kayak gini deeek :)). Seharusnya karakter LGD itu adalah pemerataan, saling berbagi ide dan berusaha mencari kesimpulan terbaik. Saya melihat beberapa orang masih cenderung ingin selalu didengar. Tapi, atas nama kompetisi memang begitu adanya, setiap orang ingin terlihat lebih baik. FYI, dari 10 finalis di setiap program hanya 1 orang yang akan terpilih. Menurut saya, kompetisi dengan ‘output dari mulut’ itu sifatnya cenderung relatif dan sulit diukur apalagi nilai benar-salah nya samar-samar. Hasil kompetisi yang bisa dikategorikan cukup valid adalah dari hasil karya, misalnya ujian, seni atau olahraga. Alat ukurnya lebih jelas. Lidah manusia ‘elastis’, bisa asli bisa palsu. Makanya saya gak suka berdebat atau adu argumen.

Kabar baiknya adalah, saya kehilangan obsesi menjadi yang terpilih. Saya tidak akan terlalu kecewa jika yang satu itu bukan saya.
Saya lebih suka dengan hal yang realistis, diskusi, lalu hasilnya benar-benar terjadi. Tapi ya lagi-lagi, palsu atau tidak ini hanyalah alat uji.

Dibalik ruang harapan terkecil saya untuk menjadi ‘the one’, saya cenderung terbebas dari harapan. Saya selalu memperhitungkan setiap gerak yang saya lakukan, bahwa semuanya tidak terjadi dengan sia-sia. Saya sudah tidak begitu peduli dengan hasilnya. Sejauh ini, saya sudah mendapatkan begitu banyak hal. Itu yang perlu disyukuri. Saya belajar kembali tata urus administrasi, saya belajar bahasa inggris lagi, belajar mengemukakan ide secara formal dan yang paling berharga adalah interaksi. Mengalami proses itu asik lho, pengalaman.

Saya gemar melakukan interaksi dengan siapa saja, saya suka mendengar orang-orang bicara. Ya bisa dibilang saya lebih suka menonton daripada menjadi aktor. Trus mau selamanya jadi penonton? Gak juga sih, saya lebih suka menjadi aktor dalam kesunyian, berbuat tanpa seorangpun bisa melihat dan mendengar, itulah maksudnya saya suka hal yang realistis dibanding hanya sekedar game/permainan. Barangkali ini karena pengaruh rentetan ‘journey’ yang sudah saya lalui: dari pekerjaan atau pengalaman. Terlihat klise memang.

Tentang tragedi mood drop saat LGD, sebenarnya punya nilai moral yang sangat besar. Saya dituntut bisa mengendalikan diri dalam kondisi yang tidak saya sukai. Kita akan berhadapan dengan kondisi serupa bahkan dengan tingkat konflik yang lebih rumit.

Teringat bagian speech, saya sempat keceplosan:

Right know I get something new. Meet new people, getting new ideas from others participants’ speech, feeling new experience. Well, meeting with you guys is a great thing that happen to me and I thank you for that.

Jangan berhenti dengan cerita kemungkinanmu, meski kecil, pelita harapan harus tetap menyala.

*Ada beberapa bagian yang saya hapus karena terlalu ‘vulgar’ ;)

3 thoughts on “Pemuda Yang Akan Ditukar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s